Kasat Reskrim Polres Kotabaru Ingatkan Bahaya Cyberbullying: Jempolmu Adalah Harimaumu
![]() |
| (Foto: Ist) |
tumbakpost - Maraknya kasus cyberbullying di media sosial menjadi perhatian Kepolisian. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kotabaru, AKP Shoqif Fabrian Yuwindayasa mengimbau masyarakat untuk lebih bijak sebelum berkomentar atau membuat konten di dunia maya.
Hal tersebut disampaikannya, Rabu (22 Juli 2026).
"Bagaimana kita menjalankan sebuah statement ataupun sebuah konten-konten atau apa itu, kita harus lihat dulu. Jangan kita langsung men-judge seseorang itu A, B, C," ujar Shoqif.
Ia menyebut pergeseran perilaku masyarakat dari dunia nyata ke dunia digital. Jika dulu ada pepatah mulutmu harimaumu, kini peringatan itu berlaku untuk jari di media sosial.
"Kalau dulu sudah bahasnya mulutmu harimaumu. Iya nggak? Kalau sekarang sudah orang menyerahnya melalui media sosial. Sekarang, bukan lagi mulutmu harimaumu, tapi jempolmu adalah harimaumu," katanya.
Shoqif juga menyoroti peran konten kreator yang menurutnya harus lebih selektif dalam membuat tayangan.
"Terlalu banyak masalah mungkin dari konten kreatornya sendiri juga. Orang-orang membuat konten itu sebuah hal yang membuat buruk dirinya, itu silahkan. Mungkin ada pakar-pakarnya," ucapnya.
Ia mencontohkan platform seperti TikTok sudah memiliki panduan konten berbahaya.
"Contohnya kayak di TikTok atau di media sosial bahwa adegan ini berbahaya, adegan ini tidak boleh diucapkan. Ada itu kan. Tolong pada teman-teman juga dari konten kreator juga harus dijaga," tambahnya.
Lebih lanjut, Shoqif menjelaskan bahwa korban cyberbullying memiliki jalur hukum untuk melapor.
"Di sisi lainnya kita ada koridornya. Maksud koridornya gini, kalau dia menyalahkan secara personal, contohnya si A, si B kalau dipublish itu pasti. Kalau dia merasa terganggu dia bisa melaporkan pada kita," jelasnya.
Ia juga mengimbau para orang tua untuk lebih ketat mengawasi penggunaan gadget pada anak di bawah umur.
"Bagi orang tua ya, yang memang punya anak yang masih di bawah umur tolong dibatasi dan diawasi penggunaan gadget. Mau dengan media sosial, habis itu dengan game online itu yang dibatasi. Karena apa? Kalau anak itu sering dengan seperti itu, yang dia dididik dengan baik akhirnya tahu bahasa-bahasa yang kotor, tahu bahasa yang tidak pantas seperti yang dia ucapkan," imbaunya. (Faizal)
